Terakhir saya membuat tulisan di sini adalah ketika saya masih bekerja di kantor pemerintahan. Sekarang saya sudah kembali bekerja pada korporat, menjadi mesin-mungkin-budak korporat penerbitan di Jakarta.
Saya lega bisa keluar dari kantor lama. Lega bisa mengerjakan hal yang saya sukai. Tapi memang benar apa perkataan klise itu, manusia memang tidak pernah puas. Apalagi manusia bernama saya.
Tak ada masalah dengan pekerjaan saya sekarang, sejujurnya. Tentu saja ada konflik-konflik yang berkisar dari sangat bodoh sampai sangat tidak masuk akal. Perkara rekan kantor yang berkelakuan aneh, berisik, dan menyebalkan, gaji yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari selama sebulan, sampai ke masalah sensor buku. Masalah terakhir ini mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini karena saya benci melakukan itu. Intinya adalah jika memang ingin mencerdaskan dan menjaga moral "bangsa", kenapa masih juga menerbitkan roman picisan yang hanya akan mengantarkan "bangsa" ke ilusi kebahagiaan? Menjaga moral tidak cukup dengan memotong adegan panas dalam cerita (yang sangat umum dalam roman picisan mana pun yang bisa kalian temukan). Jika sudah berani berkomitmen untuk menerbitkan roman picisan yang tidak menawaran kekayaan sastrawi macam apa pun, seharusnya "mereka" berani untuk menampilkan kulit telanjang perempuan cantik yang pasti akan dinikahi lelaki tampan kaya dalam cerita.
Pikiran saya kembali lagi ke perkara betapa labilnya bangsa ini. Katanya mau dagang, tapi masih sok moralis. Katanya mau menjaga moral dan "ga mau ngajarin pembaca beradegan panas lah" tapi masih menerbitkan roman yang jelas terkenal akan adegan panasnya.
Itu seperti si pedagang bakso dengan sengaja membuang bakso terakhir yang kamu sisihkan ketika makan mie bakso dengan alasan daging olahan tidak baik untuk kesehatan.
Apalagi kalau kamu sudah menyisihkan uangmu yang tak seberapa untuk membeli baso.
Saya jadi ingat Mas dari UNICEF yang mencegat saya ketika saya berjalan pulang. "Apa artinya 5000 rupiah untuk Mbak, sementara itu bisa jadi sepiring nasi putih untuk anak-anak ini?" Reflek saya langsung menjawab dalam hati, sepiring nasi putih dengan sedikit lauk untuk makan siang saya...
Thursday, October 28, 2010
Wednesday, July 7, 2010
Gelisah galau cemas
Kemarin saya berbincang dengan teman serumah lewat salah satu media messenger. Saya menceritakan rencana resign dari kantor sekarang karena kondisi yang kelewat mengerikan untuk standar saya. Tentulah ini terkait dengan orang-orang yang sepatutnya saya "layani" di kantor. Orang-orang inilah yang membuat saya merasa pilu, cemas, dan akhirnya putus asa memikirkan apa yang akan terjadi pada negara ini di masa depan. Saya menceritakan pada si housemate diskusi singkat saya dengan salah seorang senior di kantor. Si Mbak senior ini berhasil menjadi ignorant dan melepaskan segala urusan "beban moral" dengan pemaafan yang sangat sederhana: "Ah mereka kan memang begitu semua kelakuannya, sudahlah ga usah dipikirkan. Yang penting kita ga jadi seperti mereka."
Yang menjadi pertanyaan saya saat itu adalah apakah memang saya harus menjadi manusia tak acuh? Ketika saya tahu betul ada yang salah dengan sistem, budaya dan perilaku manusia-manusia yang semestinya bisa mewakili satu negara ini? Kembali lagi kalimat cliche itu mengalun "ignorant is a bliss". We are not living in a matrix world, are we? Or are we?
Kalau memang segala sesuatu yang, katakanlah, amoral bisa ditutup dengan sesederhana mengatakan ah sudahlah memang begitu wataknya apa mau dikata--kenapa kemudian tindakan yang katanya amoral semacam sexual intercourse terekam dalam video harus ditindak pidana? Kenapa kita tidak lantas berkata, "Ah sudahlah. Namanya juga rockstar. Senang pada banyak perempuan, disenangi banyak perempuan."
Saya sudah beberapa kali membaca artikel, entah di koran entah di situs, tentang betapa munafiknya bangsa Indonesia ini. Tentang bagaimana orang-orang Indonesia mampu mengedepankan isu amoral yang satu tapi lantas memaklumi yang lain. Ariel (hendak) diusir dari Bandung, sementara para petinggi dengan santai merencanakan agenda liburan dengan uang negara.
Mungkin tulisan saya tidak bisa menjelaskan betapa kesalnya saya terhadap double standard yang jelas nyata hadir di negara ini. Bangsa ini buta, sibuk mengultuskan hal-hal yang tidak penting, mencoba dengan lantang berkata bahwa kami beragama bermoral berbudaya (Timur)....tapi kemudian lupa lupa lupa akan banyaknya anak ibu orangtua tertidur di jalan jembatan penyebrangan lampu lalu lintas kelelahan karena masih harus bertahan diterpa angin malam tanpa atap untuk sekeping logam.
Saya tahu saya tidak akan bisa menawarkan atau membuat penyelesaian dari masalah-masalah di kantor ini. Saya mungkin hanya bisa membuat keputusan sangat egois sekarang, berhenti dan mengejar kebahagiaan saya. Barangkali nanti saya bisa menularkan kebahagiaan saya pada orang-orang lain yang sibuk menapaki jalan menuju kebahagiaan mereka masing-masing.
Yang menjadi pertanyaan saya saat itu adalah apakah memang saya harus menjadi manusia tak acuh? Ketika saya tahu betul ada yang salah dengan sistem, budaya dan perilaku manusia-manusia yang semestinya bisa mewakili satu negara ini? Kembali lagi kalimat cliche itu mengalun "ignorant is a bliss". We are not living in a matrix world, are we? Or are we?
Kalau memang segala sesuatu yang, katakanlah, amoral bisa ditutup dengan sesederhana mengatakan ah sudahlah memang begitu wataknya apa mau dikata--kenapa kemudian tindakan yang katanya amoral semacam sexual intercourse terekam dalam video harus ditindak pidana? Kenapa kita tidak lantas berkata, "Ah sudahlah. Namanya juga rockstar. Senang pada banyak perempuan, disenangi banyak perempuan."
Saya sudah beberapa kali membaca artikel, entah di koran entah di situs, tentang betapa munafiknya bangsa Indonesia ini. Tentang bagaimana orang-orang Indonesia mampu mengedepankan isu amoral yang satu tapi lantas memaklumi yang lain. Ariel (hendak) diusir dari Bandung, sementara para petinggi dengan santai merencanakan agenda liburan dengan uang negara.
Mungkin tulisan saya tidak bisa menjelaskan betapa kesalnya saya terhadap double standard yang jelas nyata hadir di negara ini. Bangsa ini buta, sibuk mengultuskan hal-hal yang tidak penting, mencoba dengan lantang berkata bahwa kami beragama bermoral berbudaya (Timur)....tapi kemudian lupa lupa lupa akan banyaknya anak ibu orangtua tertidur di jalan jembatan penyebrangan lampu lalu lintas kelelahan karena masih harus bertahan diterpa angin malam tanpa atap untuk sekeping logam.
Saya tahu saya tidak akan bisa menawarkan atau membuat penyelesaian dari masalah-masalah di kantor ini. Saya mungkin hanya bisa membuat keputusan sangat egois sekarang, berhenti dan mengejar kebahagiaan saya. Barangkali nanti saya bisa menularkan kebahagiaan saya pada orang-orang lain yang sibuk menapaki jalan menuju kebahagiaan mereka masing-masing.
Monday, July 5, 2010
A letter
Yes, indeed, I would compromise--if that what makes you happy, leaving will be an option. I would not object, yet sadness cannot be compromised for it has its own wishes and fears, I'm afraid.
Well, of course I would love to see you finding new adventures and life here, just a sigh away from me. But make sure you will not trap yourself in the so-called comfort since what you need is not always what lies before you. Do careful taking your future steps, small pebbles can do you harm.
You are a traveler, on land, in life, in the universe of infinite time and space. Let nothing get into your way. We are connected, through whisper, words and air. Waste not, gain while you have the time.
I bid you luck.
Well, of course I would love to see you finding new adventures and life here, just a sigh away from me. But make sure you will not trap yourself in the so-called comfort since what you need is not always what lies before you. Do careful taking your future steps, small pebbles can do you harm.
You are a traveler, on land, in life, in the universe of infinite time and space. Let nothing get into your way. We are connected, through whisper, words and air. Waste not, gain while you have the time.
I bid you luck.
Subscribe to:
Comments (Atom)